Hanya narasi-narasi. Hanya suara-suara minor. Hanya seseorang.

2.05.2009

Iklan Parpol itu Pembodohan

Entah kenapa iklan parpol kita di televisi itu murahan dan monoton. Tidak seperti iklan-iklan produk komersil. Ada sih perbedaan antara iklan politik dan komersil. Tapi kalau iklan politik di Indonesia itu ‘serupa-tapi-tak-sama’ dengan iklan produk. Sama-sama menawarkan cuma kemasan saja yang beda. Sayang, iklan politik tak secerdas iklan produk.

Simak iklan Axe. Dengan slogan “The Axe Effect”, iklannya menawarkan perempuan-perempuan yang tergoda oleh pria pengguna parfum Axe. Walaupun aroma seksualitas kuat disana tapi dikemas dengan cerdas. Tampilan nomor telepon si perempuan jadi acuan Axe.

Katakan Busway, Bukan TransJakarta

Mengganjal. Saya pernah merasa kesal waktu dipersalahkan saat mengucap, “busway.” Kira-kira begini kronologisnya;

Saya : Ya kan gue bilang juga apa. Gue dateng pas jam 9.
X : Tumben. Lu naek apa emangnya?
Saya : Gue tadi abis naek busway dari Blok M.
X : Hahaha... Salah kali. Yang bener tu naek bus TransJakarta. Masak lu anak bahasa Inggris gak ngerti artinya busway. Kan itu artinya jalanan untuk bus. Masak lu naek jalanan bus?

Semalam Dengan Robert Frost

Sangat janggal. Entah kenapa, kali ini saya berada di sebuah kota pantai Florida, AS, sekitar 1949. Saat itu winter, cuacanya membuat badan menggigil, memaksa saya mengenakan jaket yang tebalnya bukan main. Di antara garis pasir yang melandai nan eksotis, saya menyusuri jalan-jalan slum di kota. Tempat perumahan kumuh buruh migran, lokasi selundupan yang sempurna buat ‘mucikari’ buruh.

Sejurus kemudian, datang sesosok penyair kenamaan AS, Robert Frost, menemani saya berkeliling malam. Tak banyak yang mengenalnya, bahkan di kalangan warga AS saat ini. Apalagi ketika kata-kata puitik di AS berubah dinamis. Menjadi barisan narasi dengan nada-nada menghentak, berima dan berirama. Di tangan rapper muda, kata-kata puitik tak lagi diperdengarkan di gedung kesenian saja, melainkan sudah masuk Radio City Music Hall ataupun kantor pusat MTV. Semua bisa jadi penyair handal. Jika eksistensi pribadi ditonjolkan, imbasnya eksistensi yang lain berangsur tenggelam. Ah, sudahlah... Puisi juga bukan cuma hiburan bagi mereka yang dianggap “layak berbudaya”, tapi merayakan imaji jiwa-jiwa yang merdeka.