Tak ada gambar, sketsa, watermark atau apapun. Polos cuma nomor paspor
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
7.20.2012
2.05.2009
Katakan Busway, Bukan TransJakarta
Mengganjal. Saya pernah merasa kesal waktu dipersalahkan saat mengucap, “busway.” Kira-kira begini kronologisnya;
Saya : Ya kan gue bilang juga apa. Gue dateng pas jam 9.
X : Tumben. Lu naek apa emangnya?
Saya : Gue tadi abis naek busway dari Blok M.
X : Hahaha... Salah kali. Yang bener tu naek bus TransJakarta. Masak lu anak bahasa Inggris gak ngerti artinya busway. Kan itu artinya jalanan untuk bus. Masak lu naek jalanan bus?
Saya : Ya kan gue bilang juga apa. Gue dateng pas jam 9.
X : Tumben. Lu naek apa emangnya?
Saya : Gue tadi abis naek busway dari Blok M.
X : Hahaha... Salah kali. Yang bener tu naek bus TransJakarta. Masak lu anak bahasa Inggris gak ngerti artinya busway. Kan itu artinya jalanan untuk bus. Masak lu naek jalanan bus?
Semalam Dengan Robert Frost
Sangat janggal. Entah kenapa, kali ini saya berada di sebuah kota pantai Florida, AS, sekitar 1949. Saat itu winter, cuacanya membuat badan menggigil, memaksa saya mengenakan jaket yang tebalnya bukan main. Di antara garis pasir yang melandai nan eksotis, saya menyusuri jalan-jalan slum di kota. Tempat perumahan kumuh buruh migran, lokasi selundupan yang sempurna buat ‘mucikari’ buruh.
Sejurus kemudian, datang sesosok penyair kenamaan AS, Robert Frost, menemani saya berkeliling malam. Tak banyak yang mengenalnya, bahkan di kalangan warga AS saat ini. Apalagi ketika kata-kata puitik di AS berubah dinamis. Menjadi barisan narasi dengan nada-nada menghentak, berima dan berirama. Di tangan rapper muda, kata-kata puitik tak lagi diperdengarkan di gedung kesenian saja, melainkan sudah masuk Radio City Music Hall ataupun kantor pusat MTV. Semua bisa jadi penyair handal. Jika eksistensi pribadi ditonjolkan, imbasnya eksistensi yang lain berangsur tenggelam. Ah, sudahlah... Puisi juga bukan cuma hiburan bagi mereka yang dianggap “layak berbudaya”, tapi merayakan imaji jiwa-jiwa yang merdeka.
Sejurus kemudian, datang sesosok penyair kenamaan AS, Robert Frost, menemani saya berkeliling malam. Tak banyak yang mengenalnya, bahkan di kalangan warga AS saat ini. Apalagi ketika kata-kata puitik di AS berubah dinamis. Menjadi barisan narasi dengan nada-nada menghentak, berima dan berirama. Di tangan rapper muda, kata-kata puitik tak lagi diperdengarkan di gedung kesenian saja, melainkan sudah masuk Radio City Music Hall ataupun kantor pusat MTV. Semua bisa jadi penyair handal. Jika eksistensi pribadi ditonjolkan, imbasnya eksistensi yang lain berangsur tenggelam. Ah, sudahlah... Puisi juga bukan cuma hiburan bagi mereka yang dianggap “layak berbudaya”, tapi merayakan imaji jiwa-jiwa yang merdeka.
1.31.2009
Bangau Yang Ketakutan
18 gelar Liga dan 5 Liga Champion membuat Liverpool menjadi klub bersejarah di Inggris. Sayang, rekor itu akan disalip The Red Devils.
Sepasang Sepatu dan Sebotol Air Mineral
Perasaan emosi memang mengalahkan rasionalitas. Jika cinta bisa membuat orang buta, maka emosi bisa bikin orang kalap.
Saya tidak tahu tepatnya tanggal berapa. Kira-kira kejadiannya menjelang tahun baru 2009. Yang bisa diingat adalah gambaran roket dan bangunan berwarna gading yang luluh lantak. Siaran RCTI itu mengoyak hati nurani. Perang dan perang lagi. Kali ini, giliran tanah Gaza yang kering menjadi basah. Ada hujan air mata, darah yang mengucur hingga tetesan keringat pemanggul jenazah wanita dan anak-anak Palestina membasahi Gaza. Jika ada etika perang, maka waktu itu etika cuma ada di silabus pendidikan militer Israel. Etika itu menghilang cepat, secepat roket-roket Israel menghantam rumah sakit di Gaza. Lalu hancur...
Saya tidak tahu tepatnya tanggal berapa. Kira-kira kejadiannya menjelang tahun baru 2009. Yang bisa diingat adalah gambaran roket dan bangunan berwarna gading yang luluh lantak. Siaran RCTI itu mengoyak hati nurani. Perang dan perang lagi. Kali ini, giliran tanah Gaza yang kering menjadi basah. Ada hujan air mata, darah yang mengucur hingga tetesan keringat pemanggul jenazah wanita dan anak-anak Palestina membasahi Gaza. Jika ada etika perang, maka waktu itu etika cuma ada di silabus pendidikan militer Israel. Etika itu menghilang cepat, secepat roket-roket Israel menghantam rumah sakit di Gaza. Lalu hancur...
11.23.2008
Sisakan Satu Bungkus Nasi Uduk Untukku
”..memang nasi uduk menjadi suatu pembebasan; dari rasa lapar maupun ketertindasan hegemonik”, Seno Gumira Ajidarma.
Esai tentang nasi uduk dari Seno tadi kembali mengingatkanku pada seorang penjual nasi uduk. Waktu itu, lapar sedang ganas – ganasnya menyerang saat saya begadang jam 1 malam bersama kawan – kawan. Langsung saja seorang teman berinisiatif membeli nasi uduk secara kolektif. Deru motor segera dipacu mengajakku turut serta. Aneh, karena harga yang dijual hanya Rp. 500,- per bungkus. Terletak di bilangan Srengseng, Jakarta Barat saya tiba diwarung. Warungnya cuma sebuah rumah dengan diameter 4x4 meter dengan diisi 5 orang sekeluarga. Kasihan, terus terang saya tidak tega ketika harus membeli karena menyaksikan realitas seperti itu. Sayangnya, penjual terlanjur pindah lantaran tidak sanggup membayar kontrakan.Jual…Dijual Indonesia
Gelisah hari ini (18/7/07). Tak seperti hari-hari sebelumnya, Rabu ini tiket Piala Asia antara Indonesia dan Korsel susah didapat. Kemarin, secara ikhlas jaminan tiket harus dilepas. Anak SR UNJ yang biasa jadi ‘kontributor tiket dadakan’ mendadak bingung. Uang yang terlanjur dibayar terpaksa dipinta kembali. Padahal bisa saja jika dipaksakan.
Drama Petro Dollar
Ada pameo Senayan; Walau harus mati di medan laga, Merah Putih kan selalu berkibar. Sebagai pendukung, inilah saatnya semangat mulai dinyalakan. Satu, dua, hingga puluhan kali menonton laga Merah Putih tak pernah bosan. Ada kegairahan dan ekspektasi berbeda di Gelora Bung Karno ketimbang melihat lewat layar kaca, walaupun Brazil sebagai lawan.
90 Menit Untuk Indonesia
Hari itu (10/7/07) adalah penting. Penting bagi persepakbolaan nasional. Datang dengan harap segudang menanti kemenangan bagi Indonesia atas Bahrain. Menaiki bus 300 jurusan Rawamangun-Blok M jam 12 siang. Lalu, tibalah di Gelora Bung Karno. Langkah cepat pun diambil mengingat antrian tiket yang mulai memanjang.
Riuh ribuan penggila sepakbola (gibol) Indonesia segala penjuru datang ke Jakarta. Tak heran, antrian seperti ular naga memperlihatkan hal tersebut. Semua langkah dan mata gibol tertuju pada tenda berwarna gading. Megah memang. Ada sebuah kotak kayu didalamnya tempat mengantri tiket yang dibuat temporer demi mengantisipasi massa berjumlah ribuan.
Riuh ribuan penggila sepakbola (gibol) Indonesia segala penjuru datang ke Jakarta. Tak heran, antrian seperti ular naga memperlihatkan hal tersebut. Semua langkah dan mata gibol tertuju pada tenda berwarna gading. Megah memang. Ada sebuah kotak kayu didalamnya tempat mengantri tiket yang dibuat temporer demi mengantisipasi massa berjumlah ribuan.
10 Hari Mencari Ideologi
Seperti hal yang mustahil mencari ideologi dalam 10 hari. Nama-nama besar pemikir sosial dunia pun butuh waktu bertahun-tahun. Apalagi bagi kita yang hidup ditengah tumpukan ideologi; yang bilamana suatu ideologi ditunjukkan malah semakin menebalkan perbedaan.
Sebuah misi mustahil digarap beberapa kawan FPPI. Dengan hajatan bertajuk Sekolah Kader Nasional (SKN), diharapkan kader-kader FPPI tidak hanya kuat secara ideologi, namun dapat bergerak di ruang-ruang masyarakat dengan berbagai macam keahlian. Acara selama 10 hari itu bertempat di Rawamangun dan Depok.
Langganan:
Postingan (Atom)
