Hanya narasi-narasi. Hanya suara-suara minor. Hanya seseorang.

1.13.2010

Biar Urakan, Yang Penting Jempolan (resensi film Sherlock Holmes)

Nampaknya tren film sekarang adalah penyegaran film-film klasik. Terutama soal bagaimana menggeser mainstream lama yang kadung melekat. Film-film ikonik (biasanya superhero) dirubah dari segi cerita dan penokohan. Simak saja serial Batman dan James Bond versi layar lebar. Tokoh utama kedua film tersebut mengalami transformasi karakter yang tak terduga sebelumnya.

Namun, untuk film Sherlock Holmes penyegaran itu terasa mengasyikkan. Dijamin Anda tertawa menyaksikannya (paling tidak tersenyum). :-) Sehabis saya menonton film ini (Selasa, 13/1), langsung ingin menonton lagi. Maklum, soalnya tadi tertinggal 15 menit, hihihi :p

Kepolisian Inggris kalang kabut dengan kasus pembunuhan berantai. Detektif Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.) dipercaya menangani kasus ini dan menangkap si pembuat ulah yang sedang dicari-cari, Lord Blackwood (Mark Strong). Ditemani Dr. John Watson (Jude Law), Blackwood akhirnya tertangkap dan dihukum mati. Soal penyelidikan, Sherlock memang andalan kepolisian Inggris.

11.17.2009

Suzanna

Mendengar kata ini, langsung terbayang legenda perfilman Indonesia. Ia punya raut yang pucat dan sorot mata tajam. Gaya hidupnya nyentrik: Kembang melati menu sehari-harinya. Cerita dan tokoh mistis serasa hidup (dan dihidupkan) lagi olehnya.

Suzanna, aktris bertotalitas tinggi. Misteri adalah hidup dan matinya. Tenggelam dalam karakter makhluk seram, macam sundel bolong, kuntilanak, arwah penasaran, dll, Suzanna punya “label” yang sukar tergoyahkan. Ia tak menyangkal pandangan ganjil itu –yang sebagian aktris justru menghindarinya dalam kehidupan nyata. Lewat kharismanya, pabrik misteri berhasil didirikan Suzanna.

11.01.2009

Euforia

Saya tak ingat hari itu hari apa. Sudah beberapa tahun lewat. Saya dan beberapa teman makan bersama, suatu sore di kantin kampus yang telah tiada. Mulanya perbincangan cukup seru, kami menera masa depan dengan harapan. Harapan yang tidak adil, saya kira.
Obrolan kemudian berangsur menyebalkan.